Surabaya, JatimReview.Com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan kesiapan daerahnya untuk menjadi penggerak utama dalam mewujudkan swasembada gula konsumsi nasional. Hal tersebut didukung oleh tingginya produksi gula di Jawa Timur yang rata-rata mencapai lebih dari satu juta ton setiap tahun.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengatakan Jawa Timur memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional, khususnya komoditas gula.
“Jawa Timur siap berada di garis depan dalam merealisasikan target swasembada gula konsumsi,” ujarnya, Kamis (18/12).

Berdasarkan outlook tebu dan gula Direktorat Jenderal Perkebunan tahun 2025, produksi gula Jawa Timur pada periode 2021–2025 tercatat rata-rata mencapai 1,185 juta ton per tahun. Capaian tersebut menjadikan Jawa Timur sebagai daerah dengan kontribusi produksi gula terbesar secara nasional.
Selain itu, produksi gula kristal putih Jawa Timur tercatat sebagai yang tertinggi dalam satu dekade terakhir. Pada tahun 2024, produksi gula di provinsi ini mencapai 1,278 juta ton.
Dengan capaian tersebut, Jawa Timur tidak hanya mampu mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakatnya yang berada di kisaran 263.000 ton per tahun, tetapi juga mencatat surplus hingga sekitar satu juta ton yang dapat menopang kebutuhan gula nasional.
“Artinya, Jawa Timur bukan hanya swasembada, tetapi juga menjadi penyangga pasokan gula nasional,” kata Khofifah.
Khofifah juga menyebutkan peningkatan produksi gula didukung oleh optimalisasi lahan tebu melalui program bongkar ratoon dengan target seluas 69.207 hektare serta perluasan areal tanam tebu seluas 2.658 hektare yang tersebar di 23 kabupaten sentra produksi.
Selain sebagai komoditas pangan strategis, tebu di Jawa Timur dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan. Dengan produksi tebu yang mencapai lebih dari 15 juta ton per musim giling dan asumsi tetes sebesar lima persen, potensi bioetanol yang dihasilkan diperkirakan mencapai 187.500 ton per tahun.
Potensi tersebut membuka peluang kolaborasi antara industri energi dan sektor pergulaan untuk menghasilkan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas tebu.
“Dari setiap empat kilogram tetes dapat dihasilkan satu liter bioetanol, sehingga hasil samping tebu memiliki nilai ekonomi dan energi yang besar,” ujarnya. JR1
