ITS Perkuat Inovasi Energi Terbarukan untuk Dukung Ketahanan Energi Nasional

Surabaya, JatimReview.Com – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus mendorong pengembangan inovasi energi berkelanjutan sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional di tengah tekanan krisis global dan keterbatasan cadangan bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS, Fadlilatul Taufany, menegaskan bahwa ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sumber daya, tetapi juga kemampuan dalam mengembangkan teknologi berbasis potensi lokal.

“Ketahanan energi perlu didukung oleh inovasi teknologi yang memanfaatkan sumber daya dalam negeri,” ujar Fadlilatul, Senin.

ITS saat ini mengembangkan berbagai riset energi alternatif, salah satunya melalui konversi crude palm oil (CPO) menjadi bensin biogasolin lewat inovasi Benwit. Teknologi ini diharapkan dapat menjadi solusi pemanfaatan sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Selain itu, ITS juga menghadirkan Renewable Energy Integration Demonstrator of Indonesia (REIDI), yang menjadi laboratorium hidup energi terbarukan terbesar di Indonesia. Fasilitas ini mengintegrasikan berbagai sumber energi seperti tenaga surya (photovoltaic), agrovoltaic, biomassa, hingga hidrogen dalam satu sistem terpadu.

“REIDI dirancang sebagai jembatan antara riset dengan kebutuhan industri dan masyarakat,” kata Fadlilatul.

Melalui platform tersebut, ITS tidak hanya fokus pada pengembangan teknologi, tetapi juga pada tahap pengujian hingga implementasi dalam skala nyata, sehingga inovasi yang dihasilkan dapat langsung dirasakan manfaatnya.

Pendekatan serupa juga diterapkan dalam proyek Solar2Wave, yang menghadirkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung nearshore pertama di Indonesia. Proyek ini ditujukan untuk mendukung kemandirian energi di wilayah pesisir yang selama ini memiliki keterbatasan akses energi.

“Pendekatan berbasis wilayah menjadi penting agar distribusi energi bersih bisa lebih merata,” ujarnya.

Di sisi lain, ITS turut mendorong diversifikasi energi melalui pengembangan bioetanol, kendaraan listrik, serta teknologi hydrogen fuel cell. Upaya ini menjadi bagian dari percepatan transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan efisien.

“Diversifikasi sangat penting untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil,” katanya.

Untuk mendukung implementasi di lapangan, ITS juga mengembangkan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) atau Science Techno Park (STP) Otomotif. Fasilitas ini telah melayani konversi kendaraan berbahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik berbasis baterai sejak 2022.

Fadlilatul menekankan bahwa penguatan ketahanan energi nasional membutuhkan kolaborasi erat antara riset, kebijakan, dan implementasi.

“Sinergi menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diterapkan secara luas,” ujarnya. JR5

Related posts