Fokus Dukung Pengusaha Lokal, ASPIN Tegaskan PMA Tak Bisa Jadi Anggota

Surabaya, JatimReview.Com – Asosiasi Sejuta Pengusaha Indonesia (ASPIN) menegaskan komitmennya untuk berpihak penuh pada pengusaha nasional dan penguatan merek lokal. Salah satu langkah tegas yang diambil adalah tidak membuka keanggotaan bagi Perusahaan Modal Asing (PMA).

Ketua Umum ASPIN Hermanto Tanoko menyatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari visi ASPIN untuk mendorong pengusaha Indonesia, khususnya UMKM, agar mampu naik kelas dan memiliki daya saing kuat di negeri sendiri maupun pasar global.

“ASPIN memang kami desain khusus untuk pengusaha Indonesia. Karena itu, PMA tidak bisa menjadi anggota. Namun perusahaan dengan kepemilikan saham lebih dari 50 persen oleh WNI tetap diperbolehkan, karena kendalinya masih di tangan orang Indonesia,” ujar Hermanto usai deklarasi ASPIN di Vasa Hotel Surabaya, Sabtu (31/1/2026).

Hermanto menilai, dominasi brand asing di berbagai sektor usaha saat ini sudah terlalu besar. Kondisi tersebut membuat ruang tumbuh bagi merek lokal menjadi sangat sempit, meskipun pelaku usaha dan tenaga kerja di dalam negeri jumlahnya melimpah.

Ia mencontohkan sektor produk kecantikan, di mana sekitar 80 persen pasar dikuasai merek asing, sementara sisanya diperebutkan banyak perusahaan lokal.

“Kalau kita terus dibiarkan hanya menjadi pasar, ini sangat disayangkan. ASPIN ingin memastikan pengusaha lokal punya ruang tumbuh, lintas sektor, dan tidak kalah di negeri sendiri,” katanya.

Melalui ASPIN, Hermanto berharap brand Indonesia tidak hanya menjadi produsen makloon bagi merek internasional, tetapi mampu memiliki identitas dan nilai tambah sendiri di pasar global.

Menurutnya, banyak produk dunia diproduksi di Indonesia dengan tenaga kerja lokal, namun keuntungan terbesar justru dinikmati pemilik merek asing. Ketergantungan semacam ini dinilai berisiko bagi keberlangsungan industri nasional.

“Kalau suatu saat ongkos produksi di negara lain lebih murah, mereka bisa pindah. Lalu bagaimana nasib tenaga kerja dan pabrik di sini? Karena itu kita harus punya brand sendiri, agar Indonesia dikenal bukan hanya sebagai tukang jahit,” tegas Bos Tancorp Group tersebut.

Hermanto menambahkan, ASPIN membuka ruang kolaborasi dengan pihak asing sepanjang kerja sama tersebut tetap mengedepankan dan memperkuat merek lokal Indonesia.

Sementara itu, pengusaha sekaligus pengurus ASPIN Merry Riana mengapresiasi inisiatif pembentukan ASPIN yang dinilainya sebagai wadah strategis bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurutnya, pergerakan ekonomi akan berjalan efektif jika didukung partisipasi aktif sektor swasta, dan ASPIN hadir sebagai organisasi nonpolitik, lintas sektor, serta lintas generasi.

“Program-program ASPIN sangat praktikal. Tidak hanya diskusi, tapi langsung transfer pengetahuan dan praktik terbaik dari pengusaha yang sudah berpengalaman,” ujar Merry.

Ia menambahkan, anggota ASPIN juga mendapatkan kesempatan melakukan kunjungan langsung ke pabrik dan perusahaan, sehingga pelaku UMKM bisa memahami secara nyata bagaimana membangun usaha yang sehat dan berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar forum kumpul-kumpul, tapi wadah yang mendorong pengusaha untuk benar-benar naik level,” pungkasnya. JI7

Related posts