Surabaya, JatimReview.Com – ASHA IVF Indonesia mengajak pasangan suami istri untuk lebih memahami kondisi kesuburan sejak dini melalui penyelenggaraan HOPE Festival di Grand Ballroom Vasa Hotel Surabaya, Minggu (18/10). Kegiatan yang digelar dalam rangka memperingati hari ulang tahun keempat ASHA IVF tersebut diikuti 400 pasangan terpilih dari total 2.916 pasangan yang mendaftar dari berbagai wilayah Indonesia.
Peserta tidak hanya berasal dari Surabaya dan sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Sidoarjo, Gresik, Malang, Kediri, dan Jember, tetapi juga dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, hingga sejumlah kota di luar Jawa, antara lain Aceh, Medan, Palembang, Pekanbaru, Lampung, Bali, Banjarmasin, Samarinda, dan Ambon.
Pendiri sekaligus Dokter Penanggung Jawab ASHA IVF Indonesia, Dr. dr. Amang Surya Priyanto, SpOG., F-MAS, mengatakan, pemilihan peserta dilakukan melalui proses seleksi berdasarkan sejumlah pertimbangan medis dan demografis.
“Tim ASHA IVF menyeleksi 400 pasangan dari data pendaftaran dengan mempertimbangkan, antara lain, usia istri, hasil pemeriksaan awal seperti kadar AMH, lama pernikahan, dan domisili,” kata Amang di sela kegiatan HOPE Festival.

Menurut dia, tingginya jumlah pendaftar mencerminkan kebutuhan masyarakat terhadap edukasi fertilitas yang mudah dipahami, akses konsultasi dengan tenaga medis, serta ruang diskusi yang nyaman bagi pasangan yang tengah merencanakan kehamilan.
Pemeriksaan kesuburan sejak dini dinilai penting agar pasangan dapat mengetahui kondisi reproduksi masing-masing, mengenali kemungkinan kendala medis, serta menentukan langkah penanganan yang sesuai. Dengan pemahaman tersebut, pasangan diharapkan dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi aktual, bukan sekadar perkiraan atau pengalaman orang lain.
“Melalui kegiatan ini, ASHA IVF ingin menghadirkan ruang edukasi, konsultasi, dan diskusi bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif mengenai program kehamilan dan teknologi reproduksi berbantu,” ujarnya.
Amang menambahkan, setiap pasangan memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda dalam menjalani program kehamilan. Sebagian membutuhkan pemeriksaan lanjutan, sementara lainnya memerlukan penanganan medis tertentu maupun persiapan finansial sebelum memulai program.
Karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting untuk memahami pilihan yang tersedia, termasuk peluang keberhasilan, tahapan penanganan, serta perkiraan biaya yang perlu dipersiapkan.
HOPE Festival juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh pemahaman yang lebih terbuka mengenai berbagai aspek program kehamilan, termasuk teknologi fertilisasi in vitro (IVF) atau bayi tabung.
Sementara itu, dr. Ali Mahmud, Sp.OG, menjelaskan, evaluasi fertilitas tidak hanya diperlukan oleh pasangan yang telah lama menikah tetapi belum mendapatkan keturunan. Pemeriksaan juga dapat dilakukan sebagai bagian dari perencanaan kehamilan, terutama apabila terdapat faktor risiko atau riwayat gangguan reproduksi.
Secara umum, pasangan dianjurkan menjalani evaluasi fertilitas apabila belum terjadi kehamilan setelah 12 bulan berhubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi. Bagi perempuan berusia 35 tahun ke atas, evaluasi umumnya dianjurkan setelah enam bulan.
Pemeriksaan sebaiknya dilakukan lebih awal apabila perempuan berusia di atas 40 tahun atau memiliki kondisi tertentu, seperti gangguan menstruasi, riwayat endometriosis, maupun masalah pada organ reproduksi. Faktor kesuburan laki-laki juga perlu diperiksa untuk mendapatkan gambaran kondisi kedua pasangan secara menyeluruh.
“Melalui pemeriksaan yang tepat, dokter dapat membantu pasangan memahami kondisi yang dihadapi sekaligus menyusun strategi penanganan yang sesuai. Dengan demikian, waktu, tenaga, dan biaya yang dikeluarkan dapat direncanakan secara lebih efektif,” kata Ali.
Berbekal pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang IVF, Ali menilai keberhasilan program kehamilan tidak hanya berkaitan dengan aspek medis. Kesiapan finansial, kondisi emosional, dukungan keluarga, serta pemahaman pasien terhadap proses pengobatan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan fertilitas.
Menurut dia, pengalaman setiap pasien IVF berbeda sehingga pendekatan penanganannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasangan. Edukasi juga diperlukan agar pasien memahami bahwa program bayi tabung tidak selalu berhasil dalam satu kali percobaan.
Peluang keberhasilan dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari usia perempuan, penyebab infertilitas, kondisi sel telur dan sperma, hingga faktor klinis lainnya. Dengan pemahaman tersebut, pasien diharapkan memiliki gambaran yang lebih realistis mengenai proses yang dijalani serta alternatif langkah berikutnya apabila program belum berhasil.
Selain memperluas edukasi fertilitas, HOPE Festival menjadi momentum bagi ASHA IVF Indonesia untuk memperkenalkan layanan reproduksi berbantu di dalam negeri. Amang menilai, kemampuan tenaga medis dan dukungan teknologi fertilitas di Indonesia dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang selama ini mempertimbangkan pengobatan ke luar negeri.
Ia menyebut pihaknya pernah menangani pasien yang sebelumnya menjalani beberapa kali pengobatan di luar negeri tanpa memperoleh hasil yang diharapkan, kemudian berhasil hamil setelah mendapatkan penanganan di ASHA IVF. Menurut dia, terdapat pula pasien berusia 45 tahun yang berhasil hamil melalui penanganan tersebut.
Saat ini, ASHA IVF Indonesia memiliki tiga lokasi layanan di Surabaya, yakni ASHA IVF Waron Hospital, ASHA IVF RSAL, dan ASHA IVF PHC.
Melalui keberadaan layanan tersebut dan kegiatan edukasi seperti HOPE Festival, ASHA IVF berharap semakin banyak pasangan yang memperoleh informasi memadai mengenai kesehatan reproduksi, memahami pilihan penanganan yang tersedia, serta dapat merencanakan perjalanan memperoleh keturunan dengan lebih terarah. jr5/gus
