HKI Pelajari Transformasi Kawasan Industri Hijau di China

Surabaya, JatimReview.Com  – Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) tengah mempelajari penerapan konsep kawasan industri hijau melalui program China–Indonesia Industrial Park Green Development yang berlangsung di Beijing dan Tianjin.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Antar Lembaga HKI, Didik Prasetiyono, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut memberikan banyak pembelajaran mengenai inovasi dalam pengelolaan kawasan industri ramah lingkungan di China.

“China menampilkan berbagai inovasi seperti penerapan microgrid untuk energi hijau, sistem manajemen karbon berbasis Internet of Things (IoT), hingga konsep zero-waste industrial park. Semua ini memperlihatkan keberhasilan mereka dalam menyinergikan kebijakan, riset, dan teknologi lingkungan untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan,” ujar Didik dalam keterangan resminya, Selasa (4/11).

Program ini mempertemukan para pembuat kebijakan, pengelola kawasan industri, dan lembaga riset dari kedua negara. Tujuannya adalah memperkuat kerja sama dalam mewujudkan industrialisasi yang hijau dan rendah karbon.

Kegiatan tersebut digagas oleh Institute for Essential Services Reform (IESR) bersama Global Environmental Institute (GEI), dengan dukungan Energy Foundation China serta Chinese Academy of Sciences (CAS).

Didik menyebutkan, rangkaian kegiatan dimulai di Research Center for Eco-Environmental Sciences (RCEES), CAS, Beijing, di mana para peserta berdiskusi dan berbagi praktik terbaik terkait pengelolaan energi, air, dan limbah berbasis riset ilmiah dan teknologi mutakhir.

Puncak kegiatan berlangsung di Tianjin Economic-Technological Development Area (TEDA), salah satu kawasan industri tersukses di China yang mencakup lebih dari 40 ribu hektare lahan industri dan mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tahun 2024 mencapai sekitar RMB 258,1 miliar atau setara Rp567 triliun.

Menurut Didik, kesuksesan China dalam transformasi hijau tidak lepas dari arah kebijakan nasional yang jelas, komitmen pemerintah, serta kolaborasi kuat antara sektor publik dan swasta.

“Kepastian hukum, kemudahan berusaha, dan iklim investasi yang stabil menjadi kunci dalam membangun kepercayaan serta mempercepat transformasi industri,” tambahnya.

HKI menilai, pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi Indonesia dalam mempercepat pengembangan Kawasan Industri Berwawasan Lingkungan (KIBL) yang tengah digagas Kementerian Perindustrian.

“Kolaborasi dengan lembaga-lembaga China seperti CAS, CCID-MIIT, dan TEDA bisa menjadi katalis penting untuk membangun ekosistem industri hijau yang kuat di Indonesia,” ujar Didik. JR3

Related posts