Trilliun Group Dukung Pembangunan 145 Rumah Layak Huni di Gresik

Surabaya, JatimReview.Com – Trilliun Group bersama Habitat for Humanity Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Gresik mendukung pembangunan 145 unit rumah layak huni bagi masyarakat di Desa Campurejo, Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang ditargetkan rampung pada Mei 2026.

Project Leader Trilliun Group Maxwell Prijadi mengatakan perusahaan berpartisipasi dalam program tersebut dengan menyalurkan dukungan infrastruktur sanitasi untuk hunian warga.

“Trilliun Group berupaya menjadi bagian dari solusi dalam pembangunan hunian yang lebih layak. Kami menyalurkan bantuan berupa produk pipa, plumbing, serta sanitary guna mendukung fasilitas rumah yang sehat,” ujar Maxwell dalam keterangan resminya, Minggu (15/3).

Ia menjelaskan bantuan tersebut juga melibatkan PT Matahari Putra Makmur sebagai produsen produk Trilliun yang menyalurkan pipa dan fitting uPVC serta lem PVC untuk menunjang sistem sanitasi rumah warga.

Menurut Maxwell, dukungan ini diharapkan dapat membantu penyediaan akses air bersih dan sistem sanitasi yang lebih baik bagi masyarakat di kawasan tersebut.

Sementara itu, Project Coordinator Habitat for Humanity Indonesia Rudhi Virgarius mengatakan kerja sama antara organisasinya dan Pemerintah Kabupaten Gresik telah berlangsung cukup lama dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat.

Ia menilai program pembangunan hunian tersebut tidak hanya menyediakan rumah yang layak, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih tertata sehingga mendukung peningkatan kualitas hidup warga.

Rudhi menyebutkan sejak 2015 hingga 2025 pihaknya telah memberikan layanan kepada sekitar 8.000 individu di Kecamatan Wringinanom, khususnya di Desa Kesambenkulon, Mondoluko, dan Sooko.

Dalam kurun waktu tersebut, Habitat Indonesia telah membangun 1.583 rumah baru, membantu 1.065 keluarga memperoleh akses air bersih, serta merenovasi sekitar 100 rumah agar menjadi lebih layak huni.

Kepala Desa Campurejo Amudi mengatakan pemerintah desa bersama pemerintah daerah telah merancang program penataan kawasan permukiman selama empat tahun dengan fokus awal pada penanganan kepadatan hunian di RW 09.

Menurut dia, sebelumnya terdapat sejumlah rumah yang dihuni oleh dua hingga tiga kepala keluarga karena keterbatasan lahan di kawasan tersebut.

“Banyak warga tinggal di tanah milik desa dengan kondisi hunian yang padat. Dalam satu rumah bisa ditempati dua hingga tiga kepala keluarga,” katanya.

Amudi menjelaskan kawasan permukiman yang masuk kategori tidak layak huni di Desa Campurejo tersebar di RW 01, RW 03, RW 04, dan RW 09 dengan total sekitar 474 keluarga terdampak.

Kondisi tersebut juga menyebabkan sebagian warga menghadapi keterbatasan akses air bersih serta persoalan pengelolaan air limbah.

Ia menambahkan keterbatasan anggaran dari Dana Alokasi Khusus (DAK) membuat pemerintah desa membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk membantu pembangunan rumah bagi warga.

“Karena keterbatasan anggaran, ada sekitar 21 rumah yang membutuhkan dukungan tambahan. Kami bekerja sama dengan Habitat for Humanity Indonesia untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak agar pembangunan rumah ini dapat terealisasi,” ujarnya. JR3/tar

Related posts