Surabaya, JatimReview.Com – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat sistem pengendalian banjir dengan mengoperasikan tiga rumah pompa baru di sejumlah titik strategis pada 2026.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan ketiga rumah pompa tersebut berada di kawasan Margorejo Indah, Dukuh Menanggal, dan Ahmad Yani.
“Sejak Januari 2026, tiga rumah pompa baru telah beroperasi untuk memperkuat sistem pengendalian banjir di Surabaya,” kata Eri, Senin.
Masing-masing rumah pompa memiliki kapasitas 6,5 meter kubik per detik dan dilengkapi tiga unit pompa beserta screen penyaring sampah guna mempercepat aliran air.
Menurut Eri, penanganan banjir di wilayah selatan dan timur Surabaya menjadi prioritas yang ditargetkan rampung tahun ini. Untuk mendukung target tersebut, pemkot melakukan sejumlah langkah strategis seperti pembangunan rumah pompa, pengerukan saluran, pengaturan elevasi air, hingga pembangunan storage atau box penampungan air.
“Target kami di tahun 2026, Surabaya bebas dari banjir dan genangan,” ujarnya.

Selain tiga rumah pompa yang telah beroperasi, Pemkot Surabaya juga berencana membangun rumah pompa baru di kawasan Panjang Jiwo dan Jalan Nginden Intan Timur di depan Gereja Bethany Nginden.
Eri menjelaskan salah satu penyebab banjir di wilayah selatan adalah menumpuknya aliran air di Avour Wonorejo akibat limpasan dari kawasan Karah dan Jambangan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemkot mengalihkan sebagian aliran menuju saluran Kebon Agung yang dinilai memiliki kapasitas lebih besar. Saluran itu kemudian dihubungkan dengan Kali Surabaya menggunakan pompa tambahan.
“Beban aliran air harus dibagi agar tidak menumpuk di satu titik,” katanya.
Ia menambahkan, perubahan arah aliran air dan penyesuaian elevasi saluran dilakukan berdasarkan pemetaan teknis yang detail. Karena itu, camat, lurah, hingga kepala dinas turut dilibatkan untuk memahami sistem aliran air dari hulu hingga hilir.
Di kawasan timur Surabaya, pembangunan saluran juga akan menggunakan metode Corrugated Concrete Sheet Pile (CCSP), khususnya di jalur Jemursari hingga Sarono Jiwo.
Sementara di kawasan Panjang Jiwo, pelebaran saluran tidak memungkinkan dilakukan karena terhalang jaringan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kiloVolt. Sebagai solusi, pemkot akan membangun storage air di badan jalan untuk membantu pembagian aliran menuju sungai besar maupun rumah pompa.
Selain faktor infrastruktur, Eri menilai berkurangnya kawasan resapan akibat padatnya permukiman turut memperparah genangan saat hujan deras.
Meski demikian, ia optimistis titik-titik rawan genangan yang kini menjadi fokus penanganan dapat bebas banjir pada November 2026.
“Insya Allah pada November nanti titik-titik yang saat ini menjadi perhatian sudah tidak lagi tergenang ketika hujan turun,” katanya. jr5
