Surabaya, JatimReview.Com – Kondisi ekonomi global dan domestik yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik serta kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum menyurutkan optimisme pelaku industri komponen otomotif. PT Indospring Tbk (INDS) menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 16 persen pada 2026 dengan nilai mencapai Rp3,8 triliun.
Direktur PT Indospring Tbk, Bob Budiono, mengatakan bahwa pasar suku cadang kendaraan bermotor sepanjang tahun ini masih menghadapi berbagai tantangan. Namun demikian, Perseroan tetap yakin mampu meningkatkan kinerja melalui sejumlah strategi bisnis yang telah disiapkan.
“Kami menargetkan penjualan sebesar Rp3,8 triliun pada 2026 atau tumbuh sekitar 16 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp3,3 triliun,” kata Bob dalam paparan publik, Rabu (24/6).

Untuk mencapai target tersebut, Indospring akan memperluas pangsa pasar, meningkatkan kapasitas produksi fastener, memperkuat penetrasi pasar domestik dan ekspor, serta meningkatkan brand awareness produk perusahaan.
Pada kuartal pertama 2026, INDS mencatatkan penjualan sebesar Rp849 miliar atau meningkat 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun dari sisi profitabilitas, laba bersih mengalami tekanan cukup signifikan.
Laba bersih perusahaan hingga Maret 2026 tercatat sebesar Rp2,2 miliar, turun 91 persen dibandingkan kuartal pertama 2025 yang mencapai Rp25,4 miliar. Meski demikian, manajemen tetap optimistis mampu memperbaiki kinerja sepanjang sisa tahun berjalan.
“Hingga akhir 2026 kami memproyeksikan laba bruto mencapai Rp504 miliar. Sedangkan laba bersih ditargetkan sebesar Rp125 miliar atau tumbuh sekitar 25 persen dibandingkan tahun 2025,” ujar Bob.
Sementara itu, Direktur PT Indospring Tbk Teddy Limyanto menjelaskan bahwa sepanjang 2025 perusahaan masih mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan meski pasar otomotif menghadapi berbagai tekanan eksternal.
Perseroan membukukan penjualan sebesar Rp3,3 triliun pada 2025, meningkat 4,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp3,1 triliun. Kenaikan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan penjualan ekspor yang mencapai Rp1,45 triliun atau naik 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp1,3 triliun.
Adapun penjualan domestik sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp1,85 triliun. Dari sisi pasar ekspor, kawasan Asia masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi mencapai 76 persen. Negara tujuan utama meliputi Korea Selatan, Jepang, Thailand, India, dan Malaysia.
Selain Asia, pasar Amerika Serikat memberikan kontribusi sekitar 12 persen terhadap total ekspor perusahaan, disusul Australia sebesar lima persen dan negara-negara lainnya sebesar tujuh persen.
Menurut Teddy, strategi ekspor tahun ini masih difokuskan pada penguatan pasar-pasar yang sudah ada sembari membuka peluang ke negara tujuan baru yang dinilai lebih efisien dari sisi biaya logistik.
“Kami tetap fokus pada negara tujuan ekspor yang sudah berjalan. Di sisi lain, kami juga terus menjajaki pasar baru yang lebih efisien. Untuk kawasan Timur Tengah saat ini belum menjadi prioritas karena biaya logistiknya relatif lebih tinggi,” pungkasnya. jr3
