Gubernur Khofifah Dorong Gerakan Pramuka Jatim Berperan dalam Ketahanan Pangan Nasional

Surabaya, JatimReview.Com – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong Gerakan Pramuka Jawa Timur mengambil peran lebih besar dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Khofifah mengatakan Pramuka memiliki jaringan yang luas hingga tingkat akar rumput serta kekuatan dalam membentuk karakter generasi muda. Potensi tersebut, menurut dia, dapat disinergikan dengan agenda ketahanan pangan melalui penguatan kepedulian lingkungan, pertanian modern, dan pemanfaatan teknologi.

“Gerakan Pramuka memiliki kekuatan luar biasa karena hadir sampai ke akar rumput dan membentuk generasi muda yang disiplin, mandiri, tangguh, serta memiliki kepedulian sosial,” ujar Khofifah, Jumat.

Ajakan tersebut disampaikan dalam momentum Hari Pramuka ke-65 yang diperingati pada 14 Agustus 2026 dengan tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045.”

Menurut Khofifah, ketahanan pangan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk generasi muda yang memiliki kreativitas dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Ia menyebut peran Pramuka dapat diwujudkan melalui kegiatan sederhana di lingkungan masing-masing, seperti mengurangi pemborosan pangan, memanfaatkan lahan pekarangan untuk tanaman produktif, membangun kebun pangan, mengenalkan dunia pertanian kepada anak muda, serta menjaga kelestarian lingkungan.

“Semangat Pramuka adalah semangat untuk hadir, berkarya dan memberikan manfaat. Karena itu, Pramuka harus menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya memahami pentingnya pangan, tetapi juga ikut menjaga keberlanjutannya,” katanya.

Khofifah menegaskan Jawa Timur memiliki posisi penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional karena merupakan salah satu daerah lumbung pangan sekaligus sentra utama produksi tebu.

Ia menyampaikan sektor pergulaan Jawa Timur berkontribusi sekitar 51 persen terhadap produksi gula nasional. Produksi gula kristal putih di Jawa Timur pada 2025 tercatat sekitar 1,34 juta ton atau menjadi capaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

“Capaian ini semakin mempertegas posisi Jawa Timur sebagai penyangga utama industri gula nasional sekaligus daerah strategis dalam ikhtiar mewujudkan swasembada gula,” ujarnya.

Untuk memperkuat sektor tersebut, pada 2026 Jawa Timur menjalankan Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Program Perluasan Areal Tebu seluas 6.582 hektare. Dengan demikian, total target pengembangan tebu mencapai 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.

Selain komoditas tebu, produksi padi Jawa Timur juga menunjukkan peningkatan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen padi pada 2025 mencapai sekitar 1,84 juta hektare atau meningkat 13,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Produksi padi pada periode tersebut mencapai sekitar 10,44 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), setara dengan sekitar 6,03 juta ton beras untuk konsumsi.

Khofifah menilai peningkatan produksi pangan perlu dibarengi dengan regenerasi petani agar keberlanjutan sektor pertanian tetap terjaga.

“Anak-anak muda harus melihat pertanian sebagai sektor masa depan. Pertanian hari ini bukan hanya tentang mencangkul dan menanam, tetapi juga teknologi, inovasi, digitalisasi, kewirausahaan, hingga bagaimana membangun rantai nilai pangan yang berkelanjutan,” tuturnya. jr3/tar

Related posts