Lamongan, JatimReview.Com – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyiapkan pemasangan irigasi perpompaan di wilayah Kabupaten Lamongan guna mengantisipasi kekurangan air pertanian saat musim kemarau.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Kementerian Pertanian, Hermanto, mengatakan fasilitas tersebut akan segera dipasang agar distribusi air ke lahan pertanian bisa berjalan lebih optimal.
Ketersediaan air di waduk masih cukup dengan ketinggian sekitar tiga meter, namun perlu didukung sistem pengaliran yang efektif agar dapat menjangkau lahan pertanian milik petani.
“Airnya masih ada, tinggal bagaimana kita distribusikan secara maksimal ke lahan,” ujarnya dalam keterangan resminya.

Menurut Hermanto, pemasangan irigasi perpompaan ditargetkan rampung paling lambat pekan depan. Langkah ini penting untuk mencegah kekeringan pada tanaman padi yang telah memasuki usia lebih dari satu bulan. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian dan menghindari risiko gagal panen.
Irigasi perpompaan sendiri merupakan metode pengairan dengan memanfaatkan pompa untuk mengalirkan air dari sumber seperti sungai, sumur, atau embung menuju lahan pertanian. Penggunaan sistem ini dinilai efektif untuk mengatasi lahan tadah hujan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau di Jawa Timur akan dimulai pada Mei 2026, dengan puncak kekeringan terjadi pada Agustus hingga September. Penurunan curah hujan diperkirakan mencapai 20 hingga 40 persen akibat fenomena El Nino.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Lamongan, Joko Raharto, menyebutkan sebanyak 15 kecamatan dan 71 desa di Lamongan diprediksi terdampak kekeringan tahun ini.
Ia menambahkan, data tersebut telah dilaporkan ke pemerintah provinsi sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan dukungan terhadap sektor pertanian.
Sebelumnya, Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, menyatakan pihaknya telah melakukan koordinasi lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk memetakan sumber air yang tersedia.
Selain itu, pemerintah daerah juga melakukan normalisasi waduk dan sungai guna mengoptimalkan pemanfaatan air selama musim kemarau, sehingga musim tanam kedua tetap dapat berjalan tanpa kendala berarti. JR5
