Pemkot Surabaya Benahi Sistem Antrean dan Fasilitas Puskesmas, Pasien Didorong Daftar via e-Health

Surabaya, JatimReview.Com – Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pelayanan dan fasilitas fisik di seluruh pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) guna meningkatkan kenyamanan serta kualitas layanan kesehatan bagi warga.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi di Surabaya, Senin, mengatakan perbaikan tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti keluhan masyarakat, terutama mengenai antrean panjang dan kondisi ruang tunggu yang dinilai kurang nyaman saat berobat.

Salah satu langkah yang disiapkan adalah menyelaraskan alur pelayanan puskesmas dengan rumah sakit melalui penggunaan aplikasi pendaftaran daring e-Health. Dengan sistem tersebut, waktu pelayanan diharapkan lebih terukur dan antrean pasien dapat berlangsung lebih tertib.

“Alur pelayanan di puskesmas akan diselaraskan dengan standar rumah sakit, yaitu menggunakan aplikasi e-Health. Puskesmas itu harus sama dengan rumah sakit, bahwa pendaftarannya melalui aplikasi e-Health. Jadi tidak langsung datang begitu saja,” ujar Eri.

Ia menjelaskan, penggunaan aplikasi e-Health bertujuan mengatur alur kedatangan pasien sekaligus mencegah terjadinya penyerobotan antrean. Melalui sistem ini, pasien diharapkan dapat mengetahui alur pendaftaran sehingga proses pelayanan menjadi lebih terorganisasi.

Sementara itu, warga yang datang langsung tanpa melakukan pendaftaran secara daring tetap akan mendapatkan pelayanan. Namun, Pemkot Surabaya akan menyediakan ruang tunggu khusus bagi mereka, dengan pelayanan dilakukan setelah antrean pasien yang terdaftar melalui e-Health selesai.

Selain pembenahan sistem administrasi, pemkot juga merencanakan perbaikan fasilitas fisik puskesmas agar lebih representatif dan nyaman bagi pasien. Penataan ruang tunggu menjadi salah satu perhatian, termasuk penyediaan pendingin ruangan dan pemisahan area berdasarkan kelompok usia.

Eri mengatakan, pemisahan ruang tunggu diperlukan agar pasien anak-anak tidak bercampur dengan pasien dewasa atau lanjut usia yang sedang menjalani pemeriksaan maupun pengobatan.

“Tempat tunggunya ada AC-nya, jadi orang yang sakit makin sembuh, tidak makin sakit. Lalu, ada tempat yang terpisah-pisah. Kalau anak-anak ya tempat nunggunya tersendiri, tidak dicampur dengan orang tua atau dewasa yang sedang sakit,” ujarnya.

Terkait kebutuhan anggaran, Eri menyebut besaran biaya perbaikan akan disesuaikan dengan kondisi, luas bangunan, serta kebutuhan masing-masing puskesmas. Saat ini, tim teknis dari dinas terkait masih melakukan penghitungan untuk menentukan kebutuhan pembiayaan secara terperinci.

Menurutnya, perhitungan tersebut diperlukan agar penanganan setiap puskesmas dapat disesuaikan dengan kondisi aktual bangunan dan fasilitas yang perlu diperbaiki.

“Penghitungannya beda-beda per puskesmas, dilihat dari kondisinya. Dalam waktu singkat insyaallah selesai, karena dari ilmu sipil kan bisa kelihatan kebutuhan biaya per meter perseginya berapa,” katanya.

Melalui pembenahan tersebut, Pemkot Surabaya berharap pelayanan puskesmas menjadi lebih tertib, fasilitas semakin nyaman, serta masyarakat memperoleh pengalaman berobat yang lebih baik. jr3/rin

Related posts