Sa’diah Dirut PT Indie Syafa Transforma, Hadirkan Deklamasi Puisi di Titik Balik 28 Halaman Terakhir.

Surabaya, JatimReview.Com – Awal tahun 2026 menjadi babak baru dalam perjalanan hidup Sa’diah, S.Pd.I., M.Pd.I. Di balik perannya sebagai Direktur Utama PT Indie Syafa Transforma sekaligus Owner Syafa Grup, perempuan yang dikenal tangguh ini mengawali tahun dengan sebuah pencapaian personal yang lahir dari ruang paling sunyi dalam dirinya: meluncurkan buku puisi berjudul Kemenangan yang Menyisakan Luka.

Buku ini bukan sekadar kumpulan kata indah yang dirangkai menjadi puisi. Di dalamnya tersimpan jejak emosi, luka yang perlahan disembuhkan, serta kemenangan-kemenangan kecil yang dipetik dari perjalanan hidup Sa’diah selama kurang lebih satu dekade terakhir. Setiap bait lahir dari pengalaman nyata, ditulis dengan kejujuran, dan dirangkai di sela kesibukan mengelola perusahaan.

Peluncuran buku yang digelar di El Hotel Malang, Jawa Timur, sejatinya direncanakan sebagai penutup tahun 2025. Agenda tersebut semula dijadwalkan pada 30 Desember, namun harus bergeser karena padatnya aktivitas. Kendati demikian, rasa syukur mengiringi terselenggaranya acara pada Senin, 5 Januari 2026, sebagai pembuka tahun yang sarat makna.

“Acara yang awalnya dijadwalkan pada akhir Desember terpaksa ditunda karena kesibukan. Alhamdulillah, akhirnya bisa terlaksana dengan lancar di awal tahun ini,” ujar Sa’diah.

Puisi-puisi dalam buku Kemenangan yang Menyisakan Luka merekam emosi yang berlapis bahagia, sedih, kehilangan, hingga kesepian yang berpadu menjadi satu kesatuan rasa. Sa’diah tidak hanya menuliskan tentang kemenangan, tetapi juga tentang apa saja yang harus dilepaskan untuk sampai ke titik tersebut. Tema ini terasa dekat dengan realitas banyak orang, menjadikan puisinya mudah diresapi.

Nuansa tersebut bahkan telah tergambar sejak pandangan pertama. Sampul buku didominasi warna biru tua, menampilkan ilustrasi seorang perempuan yang menatap jauh ke depan di bawah langit senja. Sebuah simbol perjalanan batin yang hening, dalam, dan penuh perenungan.

“Hasil perjuangan dan air mata selama kurang lebih sepuluh tahun menjadi sumber inspirasi buku ini. Ada kata-kata yang menggambarkan hancurnya hati seorang anak ketika harus berpisah dari keluarganya karena keadaan,” tutur Sa’diah lirih.

Menariknya, proses penulisan buku ini terbilang singkat. Dalam waktu sekitar dua setengah bulan, seluruh naskah berhasil dirampungkan. Menulis memang telah menjadi hobi lama Sa’diah, sehingga kumpulan kata yang selama ini tersimpan akhirnya menemukan bentuknya sebagai sebuah buku.

“Pengalaman hidup yang penuh warna saya tuangkan ke dalam goresan tinta hingga akhirnya berwujud buku,” katanya.

Sesungguhnya, buku ini menyimpan semangat pada titik balik kehidupan. Pada 28 halaman terakhir, tergambar perubahan yang mampu mengubah sebuah perjalanan hidup sekaligus menyimpan kekuatan tersendiri.

Lebih dari sekadar karya sastra, buku ini menjadi penanda pencapaian personal sekaligus bukti dari proses panjang yang telah ia lalui bahwa luka pun dapat menjelma menjadi karya.

Acara peluncuran berlangsung hangat dan penuh emosi. Hadir dalam kesempatan tersebut jajaran pegawai PT Indie Syafa Transforma dan PT Eco Syafa Harvest, termasuk perwakilan dari kantor pusat Surabaya serta cabang Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Malang.

Suasana semakin hidup saat sesi deklamasi puisi digelar. Sejumlah pegawai membacakan puisi-puisi pilihan dengan penuh penghayatan, memadukan intonasi, ekspresi, gerak tubuh, dan iringan musik yang menyentuh. Kreativitas mereka berhasil membawa hadirin larut dalam suasana.

Tawa dan air mata silih berganti memenuhi ruangan. Tepuk tangan panjang dan ungkapan terima kasih mengalir, tak hanya sebagai apresiasi atas buku yang diluncurkan, tetapi juga atas ruang ekspresi dan kebersamaan yang tercipta.

Puncak keharuan terjadi ketika Sa’diah menerima buket bunga dari perwakilan perusahaan dan para pegawai. Momen tersebut menjadi simbol dukungan, kebersamaan, serta penghargaan atas perjalanan panjang yang kini terpatri dalam Kemenangan yang Menyisakan Luka.

“Saya berharap buku ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi siapa pun yang membacanya,” pungkas Sa’diah. JI5

Related posts