Surabaya, JatimReview.Com – Keberhasilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menekan angka stunting mendapat apresiasi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi). Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima penghargaan atas komitmennya memimpin percepatan penurunan prevalensi stunting melalui berbagai kebijakan inovatif dan kolaborasi lintas sektor.
Penghargaan tersebut diberikan setelah Jawa Timur berhasil menurunkan prevalensi stunting dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024 berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Capaian ini menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan angka stunting terendah di Pulau Jawa dan terbaik kedua secara nasional setelah Bali.
“Alhamdulillah, komitmen Jawa Timur dalam percepatan penurunan stunting terus menunjukkan hasil positif. Kami bersyukur hari ini menerima penghargaan dari Persagi,” ujar Khofifah, Sabtu (4/7).

Menurut Khofifah, penghargaan tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan pemerintah provinsi, tetapi juga bentuk apresiasi terhadap seluruh pihak yang selama ini bekerja sama dalam upaya menekan angka stunting.
Ia menegaskan keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi berbagai organisasi perangkat daerah, mulai dari Bappeda, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Tim Penggerak PKK Jawa Timur, BKKBN, DP3AK, hingga Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Selain mengandalkan kolaborasi lintas sektor, Pemprov Jawa Timur juga menjalankan sejumlah program inovatif untuk mempercepat penurunan stunting. Di antaranya melalui layanan konseling dari rumah ke rumah, pendampingan bagi ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis, serta Program Jawa Timur Tanggap Terhadap Ibu Hamil Risiko Stunting.
Upaya pencegahan juga dilakukan sejak sebelum kehamilan melalui pembekalan kepada calon pengantin mengenai pentingnya pemenuhan gizi dan kesehatan reproduksi agar risiko stunting dapat dicegah sejak dini.
“Banyak inovasi yang dilakukan, termasuk memberikan pembekalan kepada calon pengantin agar mereka memahami pentingnya menjaga kesehatan sebelum kehamilan terjadi,” kata Khofifah.
Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga menyoroti peran strategis para ahli gizi dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, tenaga ahli gizi menjadi ujung tombak dalam memastikan setiap menu yang disajikan memenuhi standar gizi bagi para penerima manfaat.
Ia menjelaskan, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berada di bawah pengawasan tenaga ahli gizi yang telah memiliki kompetensi dan sertifikasi, meski satu orang ahli gizi dapat mengawasi lebih dari satu SPPG.
Khofifah berharap penghargaan dari Persagi menjadi penyemangat bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus memperkuat kolaborasi dalam mempercepat penurunan angka stunting sekaligus menyiapkan generasi yang sehat, berkualitas, dan mampu menyongsong Indonesia Emas 2045. jr1/tar
