Surabaya, JatimReview.Com – PT Siantar Top Tbk (STTP) menargetkan pertumbuhan penjualan dan laba bersih dua digit sepanjang 2026 dengan mengandalkan penguatan pasar ekspor dan peningkatan efisiensi operasional di tengah tekanan ekonomi global.
Direktur Utama PT Siantar Top Tbk, Armin, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah memang memberikan tekanan terhadap biaya produksi perusahaan. Namun, kondisi tersebut belum mengubah target bisnis yang telah ditetapkan sejak awal tahun.
“Kami masih optimistis mencapai target yang telah ditetapkan. Sampai saat ini belum ada revisi karena kinerja penjualan masih menunjukkan tren positif, terutama dari pasar ekspor,” kata Armin usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Surabaya, Jumat (5/6).

Menurut dia, kenaikan harga bahan baku seperti tepung terigu, minyak goreng, dan bahan kemasan telah mendorong biaya produksi naik hingga sekitar 10 persen. Meski demikian, perusahaan masih mampu menjaga profitabilitas melalui berbagai langkah efisiensi.
Sepanjang 2025, Siantar Top membukukan penjualan bersih sebesar Rp5,24 triliun atau meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp4,96 triliun. Laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp1,18 triliun.
Sementara hingga Mei 2026, penjualan telah tumbuh lebih dari lima persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Perseroan meyakini tren positif tersebut akan terus berlanjut hingga akhir tahun.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, perusahaan belum berencana menaikkan harga produk secara signifikan. Manajemen masih melakukan evaluasi secara berkala sambil mengoptimalkan berbagai upaya efisiensi.
“Kami berusaha menahan kenaikan harga selama memungkinkan. Fokus kami adalah menjaga daya beli konsumen sekaligus mempertahankan pertumbuhan bisnis,” ujar Armin.
Di sisi lain, perusahaan terus memperkuat rantai pasok dengan memperluas sumber bahan baku dari sejumlah negara ASEAN yang menawarkan harga lebih kompetitif serta biaya logistik yang lebih efisien.
Direktur PT Siantar Top Tbk, Suwanto, menjelaskan bahwa efisiensi distribusi juga menjadi salah satu fokus utama perusahaan. Optimalisasi kapasitas muatan dalam setiap pengiriman dilakukan untuk menekan biaya transportasi yang meningkat akibat kenaikan harga bahan bakar dan tarif logistik.
Selain memperkuat pasar domestik melalui jaringan distribusi yang semakin luas, perseroan juga terus memperbesar kontribusi ekspor. Hingga Mei 2026, porsi ekspor telah mencapai sekitar 20 persen dari total penjualan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 18,9 persen.
Pasar Asia dan Timur Tengah masih menjadi tujuan utama ekspor perusahaan. Namun demikian, konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah menyebabkan gangguan pada jalur pelayaran dan ketersediaan kapal sehingga biaya pengiriman meningkat.
Menghadapi situasi tersebut, perusahaan memperkuat koordinasi dengan distributor untuk memastikan ketersediaan produk tetap terjaga di pasar tujuan ekspor.
Tak hanya itu, Siantar Top juga mulai memperluas penetrasi ke pasar Amerika Utara, termasuk Kanada dan Amerika Serikat, guna menciptakan sumber pertumbuhan baru di masa mendatang.
“Kami telah melewati berbagai tantangan saat pandemi Covid-19. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk menghadapi kondisi global saat ini. Dengan strategi efisiensi, diversifikasi pasar, dan penguatan ekspor, kami optimistis dapat menjaga pertumbuhan dan margin keuntungan tetap sehat sepanjang tahun ini,” kata Suwanto. jr5
