Surabaya, JatimReview.Com – Kinerja sektor Perusahaan Pembiayaan, Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) di Jawa Timur masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik meskipun menghadapi tantangan perlambatan ekonomi dan peningkatan risiko pembiayaan pada sejumlah subsektor.
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari mengatakan perkembangan sektor PVML sepanjang 2025 hingga awal 2026 memperlihatkan tren yang beragam. Beberapa subsektor mengalami moderasi pertumbuhan, namun fintech lending, modal ventura, dan pegadaian swasta masih mencatatkan kinerja positif.
“Sektor PVML di Jawa Timur tetap menunjukkan ketahanan di tengah proses penyesuaian ekonomi. Di saat yang sama, lembaga jasa keuangan juga semakin berhati-hati dalam menjaga kualitas pembiayaan,” ujar Yunita di Surabaya.

Pada sektor perusahaan pembiayaan, nilai piutang pembiayaan tercatat sebesar Rp45,652 triliun pada Desember 2025 atau turun 2,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut mencerminkan perlambatan permintaan pembiayaan, khususnya pada sektor konsumsi dan modal kerja.
Selain itu, perusahaan pembiayaan juga menerapkan prinsip kehati-hatian yang lebih tinggi dalam menyalurkan kredit. Dampaknya, rasio Non Performing Financing (NPF) Gross meningkat menjadi 3,33 persen, meski masih berada dalam level yang dinilai terkendali.
Berbeda dengan sektor pembiayaan, industri modal ventura masih mencatatkan pertumbuhan positif. Total pembiayaan mencapai Rp1,82 triliun pada Desember 2025 atau meningkat 8,06 persen secara tahunan. Kondisi ini menunjukkan minat investasi terhadap usaha rintisan dan sektor inovatif masih terjaga.
Sementara itu, industri fintech peer-to-peer lending terus memperluas jangkauan layanan pembiayaan alternatif. Hingga Februari 2026, jumlah pemberi pinjaman (lender) mencapai 412 ribu akun, sedangkan penerima pinjaman (borrower) mencapai 17,453 juta akun.
Outstanding pembiayaan fintech tercatat sebesar Rp11,87 triliun atau tumbuh 18,47 persen secara tahunan. Meski pertumbuhannya mulai melambat, sektor ini tetap menjadi salah satu sumber pembiayaan penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat yang belum sepenuhnya terlayani perbankan.
Namun demikian, OJK mencermati peningkatan risiko pada industri fintech yang ditunjukkan oleh naiknya tingkat wanprestasi di atas 90 hari (TWP-90) menjadi 5,99 persen. Kondisi tersebut mendorong perlunya penguatan tata kelola dan manajemen risiko oleh penyelenggara fintech.
Di sektor Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS), kinerja tercatat relatif stabil. Total aset mencapai Rp270 miliar atau turun 1,66 persen secara tahunan, namun penyaluran pembiayaan justru tumbuh 12,56 persen menjadi Rp165 miliar.
Menurut Yunita, kondisi tersebut menunjukkan fungsi intermediasi kepada masyarakat mikro tetap berjalan dengan baik meskipun kapasitas aset lembaga masih terbatas.
Sementara itu, pertumbuhan paling signifikan terjadi pada sektor pergadaian swasta. Hingga September 2025, total aset meningkat 50,21 persen menjadi Rp853 miliar, sedangkan outstanding pembiayaan tumbuh 44,28 persen menjadi Rp728 miliar.
Peningkatan tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap sumber likuiditas jangka pendek serta semakin besarnya pemanfaatan produk gadai sebagai alternatif pembiayaan yang cepat dan berbasis agunan.
Secara keseluruhan, OJK menilai sektor PVML di Jawa Timur masih berada dalam kondisi yang cukup sehat. Meski terdapat kecenderungan moderasi pertumbuhan dan peningkatan risiko pada beberapa subsektor, fungsi pembiayaan bagi masyarakat dan dunia usaha tetap berjalan serta menjadi penopang aktivitas ekonomi daerah. jr3
