Jakarta, JatimReview.Com — Pemerintah terus mempercepat hilirisasi sektor perkebunan sebagai strategi utama untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri di tengah tekanan global dan ketergantungan pada energi fosil.
Kebijakan ini menempatkan subsektor perkebunan sebagai bagian penting dalam rantai pasok energi baru berbasis sumber daya domestik. Arah tersebut sejalan dengan visi Prabowo Subianto dalam mendorong transformasi ekonomi melalui penguatan industri hilir dan pengurangan impor energi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pembangunan perkebunan ke depan tidak boleh lagi berhenti pada produksi bahan mentah, melainkan harus diarahkan pada pengolahan bernilai tambah tinggi.
“Hasil perkebunan harus diolah menjadi produk turunan bernilai tinggi, termasuk bioenergi. Ini bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan kedaulatan energi nasional,” ujarnya dalam keterangan, Jumat (24/4).

Sejumlah komoditas strategis seperti kelapa sawit, tebu, jagung, dan singkong kini didorong menjadi bahan baku utama pengembangan biofuel, baik biodiesel maupun bioetanol. Optimalisasi komoditas lokal dinilai penting untuk memperkuat bauran energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada energi berbasis fosil.
Di sektor hulu, penguatan dilakukan melalui peningkatan produksi dan produktivitas, termasuk percepatan program peremajaan sawit rakyat (PSR), penyediaan sarana dan prasarana, serta pengawasan perizinan dan sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO.
Untuk komoditas tebu, pemerintah juga mendorong percepatan swasembada gula sekaligus pengembangan bioetanol melalui program bongkar ratoon dan perluasan areal tanam hingga ratusan ribu hektare.
Selain itu, pembenahan data dan sistem informasi perkebunan menjadi perhatian utama guna mendukung perencanaan yang lebih akurat dan berkelanjutan dalam memasok kebutuhan industri bioenergi.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Ali Jamil, menyebut hilirisasi memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional.
“Hilirisasi akan menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri berbasis komoditas, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kesejahteraan pekebun,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengembangan komoditas ke depan tidak hanya difokuskan untuk kebutuhan pangan dan industri konvensional, tetapi juga diarahkan sebagai sumber energi terbarukan yang memiliki prospek besar.
Menurutnya, sinergi lintas sektor akan terus diperkuat, mulai dari produksi di tingkat hulu hingga pengolahan dan kebijakan energi, guna memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku industri bioenergi nasional.
“Integrasi dari hulu hingga hilir menjadi kunci agar pengembangan biodiesel dari kelapa sawit dan bioetanol dari tebu dapat berjalan optimal,” pungkasnya. jr3
