Perkuat Ketahanan Pangan, Pemkot Surabaya Ajak Warga Gerakan Urban Farming

Surabaya, JatimReview.Com– Pemerintah Kota Surabaya terus mendorong penguatan ketahanan pangan berbasis lingkungan dengan memperluas gerakan pertanian perkotaan atau urban farming hingga tingkat rukun warga (RW).

Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Surabaya Urban Farming Competition (SUFC) 2026 yang digelar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Surabaya. Program yang memasuki tahun kelima ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang perlombaan, tetapi juga sebagai gerakan masyarakat untuk meningkatkan produksi pangan dari lingkungan perkotaan.

Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Surabaya Anna Fajriatin mengatakan, SUFC 2026 memiliki peran strategis dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus membantu mempertahankan stabilitas harga komoditas.

“Program dari Dinas Ketahanan Pangan melalui Urban Farming Competition akan bersinergi dengan Lomba Kampung Pancasila,” kata Anna, Jumat.

Menurut dia, sinergi tersebut menjadi langkah penting karena Lomba Kampung Pancasila melibatkan seluruh 1.361 RW yang tersebar di Kota Surabaya. Pilar lingkungan dalam program tersebut nantinya dapat diperkuat melalui kegiatan pertanian perkotaan.

Anna berharap kolaborasi kedua program dapat membuat urban farming berkembang sebagai aktivitas bersama di tingkat kewilayahan, bukan sekadar kegiatan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kompetisi.

Urban farming ini tidak hanya menjadi kegiatan lomba, tetapi menjadi gerakan bersama di setiap wilayah. Dengan keterlibatan 1.361 RW, kita ingin membangun ketahanan pangan mulai dari lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Dorong Produksi Pangan dari Rumah

Kepala DKPP Kota Surabaya Nanik Sukristina mengatakan, masyarakat dapat memanfaatkan berbagai ruang yang tersedia untuk kegiatan pertanian perkotaan. Lahan tersebut antara lain pekarangan rumah, aset pemerintah, fasilitas umum hingga ruang yang selama ini belum dimanfaatkan.

Menurut Nanik, penguatan ketahanan pangan perlu dimulai dari lingkup paling kecil, yakni rumah tangga, sebelum kemudian dikembangkan ke tingkat lingkungan yang lebih luas.

“Ketahanan pangan kita mulai dari skala rumah tangga. Setelah itu, secara bertahap bisa dikembangkan ke skala yang lebih luas, misalnya tingkat RW,” katanya.

Pada SUFC 2026, terdapat empat kategori yang diperlombakan. Kategori tersebut meliputi urban farming terintegrasi atau terpadu, kuantitas bawang merah, kuantitas cabai rawit, serta urban farming pemula.

Khusus kategori urban farming terpadu, konsep yang diterapkan tidak hanya mengandalkan sektor tanaman. Peserta juga menggabungkan kegiatan pertanian dengan unsur perikanan dan peternakan.

Sementara pada kategori kelompok tani, peserta diarahkan membudidayakan dua komoditas utama, yakni cabai rawit dan bawang merah. DKPP menyediakan 30 bibit bawang merah dan satu paket benih cabai rawit bagi peserta.

Adapun media tanam dan perlengkapan budidaya disiapkan secara mandiri oleh masing-masing peserta.

Proses penanaman dan pemeliharaan dijadwalkan mulai 6 September 2026. Selama kompetisi berlangsung, DKPP bersama para pemangku kepentingan dan mitra pendukung akan melakukan pemantauan sekaligus memberikan pendampingan kepada peserta.

Nanik menegaskan, hasil utama yang ingin dicapai dari program tersebut bukan sekadar munculnya pemenang lomba, melainkan tumbuhnya pengetahuan dan pengalaman masyarakat dalam menghasilkan pangan secara mandiri.

“Yang ingin kita dorong adalah bagaimana masyarakat bisa ikut memperkuat ketahanan pangan melalui urban farming. Pengetahuan dan pengalaman selama kompetisi diharapkan dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masing-masing, sehingga produksi pangan bisa terus berjalan,” tuturnya. jr1/an

Related posts