BPBD Jatim Susun Pedoman Pesantren Tangguh Bencana, 5.930 Ponpes Berisiko Tinggi

Sidoarjo, JatimReview.Com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama Siap Siaga Jatim menyusun pedoman Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) untuk meningkatkan kesiapsiagaan lingkungan pondok pesantren dalam menghadapi potensi bencana.

Penyusunan pedoman tersebut menjadi salah satu upaya pembelajaran dari sejumlah kejadian bencana yang menimpa pondok pesantren di Jawa Timur, termasuk runtuhnya bangunan mushalla Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada 29 September 2025.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, penyusunan pedoman Pestana dibahas melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga perwakilan pondok pesantren.

“Bencana yang menimpa sejumlah pondok pesantren di Jatim setahun terakhir, termasuk runtuhnya mushalla Ponpes Al-Khoziny Buduran pada 29 September tahun lalu, menjadi pembelajaran penting bagi lahirnya gagasan pembentukan Pestana di Jatim,” kata Gatot dalam keterangan di Sidoarjo, Sabtu.

Menurut dia, langkah tersebut mendesak dilakukan mengingat banyaknya pondok pesantren di Jawa Timur yang berada di kawasan dengan tingkat kerawanan bencana tinggi.

Berdasarkan data Kementerian Agama Jawa Timur, jumlah pondok pesantren di provinsi tersebut mencapai 7.430 lembaga. Setelah dipadankan dengan peta multibahaya bencana, sebanyak 5.930 pesantren diketahui berada di wilayah berisiko tinggi.

“Berdasarkan data Kemenag Jatim per hari ini, jumlah pondok pesantren di Jatim sebanyak 7.430 pesantren. Setelah kita overlay dengan multihazard bencana, tercatat sebanyak 5.930 pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko tinggi,” ujarnya.

Besarnya jumlah pesantren yang berada di kawasan rawan bencana membuat upaya mitigasi perlu dilakukan secara terencana, termasuk melalui peningkatan pemahaman pengelola pesantren, tenaga pendidik, dan santri mengenai kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.

Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Jatim Imam Turmidi menyatakan dukungannya terhadap inisiatif BPBD Jatim tersebut. Menurut dia, program Pestana relevan dengan kondisi pesantren yang memiliki jumlah penghuni cukup besar.

Ia menyebut jumlah santri di Jawa Timur mencapai sekitar 660.437 orang. Dengan jumlah tersebut, penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan menjadi penting untuk melindungi keselamatan warga pesantren, terutama yang berada di daerah rawan bencana.

“Jumlah yang banyak ini tentu sangat kompleks sekali karena mayoritas berada di daerah rawan bencana sebagaimana data BPBD Jatim,” kata Imam.

Dukungan serupa disampaikan Ketua Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Hidayat. Ia menilai pembentukan Pestana dapat menjadi langkah strategis untuk membangun budaya sadar bencana di lingkungan pesantren.

Menurut dia, pelatihan kebencanaan perlu diperluas agar pengelola dan santri memiliki pengetahuan serta keterampilan yang memadai dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.

“Saya kira, 80 persen pondok pesantren di Jawa Timur ini merupakan pesantren NU. Maka, perlu sekali dilakukan pelatihan agar pesantren semakin tangguh dan siaga terhadap bencana,” ujarnya.

FGD penyusunan pedoman Pestana tersebut juga melibatkan sejumlah organisasi dan lembaga yang memiliki perhatian terhadap penanggulangan bencana. Di antaranya LPBI NU Jatim, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jatim, MDMC Muhammadiyah, SRPB Jatim, Ikatan Guru Indonesia (IGI) Jatim, BPBD kabupaten/kota, serta perwakilan sejumlah pondok pesantren.

Beberapa pesantren yang turut hadir dalam kegiatan tersebut antara lain Ponpes Langitan Tuban, Ponpes Amanatul Ummah, dan Ponpes At-Taroqi Sampang.

Diskusi juga menghadirkan sejumlah pemateri, yakni pejabat fungsional ahli madya BPBD Jatim Dadang Iqwandy, perwakilan Siap Siaga Jatim Iswar Abidin, serta Kepala Laboratorium Struktur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya Aniendhita Rizki Amalia.

Melalui penyusunan pedoman Pestana, BPBD Jatim bersama para pemangku kepentingan diharapkan dapat membangun pendekatan pengurangan risiko bencana yang sesuai dengan karakteristik pondok pesantren, sehingga keselamatan santri dan seluruh warga pesantren dapat lebih terlindungi. jr1/rus

Related posts