Pemkot Surabaya Dorong Warga Perbanyak Pilihan Sumber Protein

Surabaya, JatimReview.Com – Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, mendorong masyarakat memperbanyak pilihan sumber protein dalam menu keluarga dengan tidak hanya mengandalkan daging ayam dan sapi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Nanik Sukristina mengatakan sumber protein seperti ikan, telur, tahu, tempe, dan kacang-kacangan dapat menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.

“Pangan sumber protein tidak hanya berasal dari daging ayam dan daging sapi. Masyarakat dapat memilih dan mengonsumsi berbagai sumber protein secara bergantian sesuai kebutuhan keluarga,” katanya, Kamis.

Menurut Nanik, diversifikasi pangan bukan berarti mengurangi atau meninggalkan konsumsi ayam dan daging sapi. Masyarakat justru didorong memiliki lebih banyak alternatif agar pemenuhan kebutuhan pangan dan gizi tidak bergantung pada komoditas tertentu.

Upaya tersebut sejalan dengan konsep Pola Pangan Harapan (PPH), yang mendorong konsumsi pangan secara beragam, bergizi, seimbang, aman, serta sesuai kebutuhan masing-masing keluarga.

Nanik mengatakan keberagaman pilihan pangan juga penting untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga di tengah perubahan pola konsumsi dan pergerakan harga berbagai komoditas.

Berdasarkan survei harga konsumen BPS Kota Surabaya, pada Juli 2026 Surabaya mengalami deflasi sebesar 0,22 persen secara bulanan (month to month/mtm). Dalam periode tersebut, telur ayam ras dan daging ayam ras menjadi beberapa komoditas yang turut memberikan andil terhadap deflasi.

“Diversifikasi pangan adalah membiasakan keluarga memiliki banyak pilihan. Hari ini bisa ikan, kemudian telur, tahu, tempe atau sumber protein lainnya. Ayam dan daging sapi tetap bisa dikonsumsi, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya pilihan,” ujarnya.

Ia menilai pola konsumsi masyarakat Surabaya secara umum sudah cukup baik dan mendekati kondisi ideal dari sisi keberagaman serta keseimbangan pangan. Karena itu, pemerintah kota berupaya mempertahankan sekaligus memperkuat kebiasaan tersebut.

Nanik menekankan bahwa pemenuhan gizi keluarga tidak hanya ditentukan oleh jenis pangan yang dikonsumsi, tetapi juga keberagaman dan keseimbangan menu sehari-hari.

“Yang penting bukan hanya jenis proteinnya, tetapi bagaimana makanan tersebut dikonsumsi secara beragam dan seimbang. Kita ingin masyarakat semakin terbiasa memilih pangan yang bergizi, aman, dan sesuai kebutuhan keluarga,” katanya. jr5/tar

Related posts