Ngawi, JatimReview.Com – Kementerian Pertanian mempercepat gerakan tanam padi serentak di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur sebagai langkah strategis menjaga ketahanan pangan nasional, khususnya menghadapi awal musim kemarau dan potensi dampak iklim.
Program yang dipusatkan di Kabupaten Ngawi ini menargetkan peningkatan luas tambah tanam (LTT) hingga 3,4 persen dalam satu hari, atau dua kali lipat dibanding capaian sebelumnya. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga kesinambungan produksi sekaligus mendukung target swasembada pangan berkelanjutan.
Kegiatan ini diinisiasi Direktorat Jenderal Tanaman Pangan bersama Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dengan mengusung tema “Sawah Bersholawat Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan”.
Kepala BBPOPT, Yuris Tiyanto, menegaskan bahwa percepatan tanam harus menjadi gerakan kolektif yang terukur dan berdampak nyata terhadap peningkatan produksi.
“Target kenaikan LTT sebesar 3,4 persen dalam satu hari ini bukan sekadar seremoni. Ini harus menjadi langkah konkret untuk memperkuat produksi pangan,” ujarnya.

Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program, mulai dari pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian hingga petani. Sejumlah langkah strategis juga terus diperkuat, seperti percepatan olah tanah, optimalisasi jaringan irigasi dan pompa air, serta penguatan koordinasi lapangan.
Selain itu, pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) juga diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital, salah satunya sistem SIFORTUNA yang dikembangkan BBPOPT. Sistem ini telah terintegrasi dalam dashboard Operation Room dan digunakan oleh Kantor Staf Presiden untuk memantau kondisi produksi secara real time.
“Dengan teknologi ini, potensi serangan OPT bisa diprediksi lebih dini sehingga langkah penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” tambah Yuris.
Data menunjukkan tren sektor pertanian Jawa Timur terus membaik. Luas tanam periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 tercatat meningkat 9,7 persen, sementara produksi beras naik lebih dari 2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur, Denny Kurniawan, menekankan pentingnya keserempakan dalam siklus produksi.
“Tanam serentak harus diikuti panen serentak agar hasil optimal. Meski menghadapi tantangan El Nino, Jawa Timur masih mampu mempertahankan posisi sebagai produsen utama nasional,” katanya.
Di tingkat daerah, Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, menyebut kinerja sektor pertanian di wilayahnya terus menunjukkan tren positif. Pada 2025, produksi padi Ngawi mencapai 772.571 ton Gabah Kering Giling (GKG), meningkat dibanding tahun sebelumnya dan berkontribusi sekitar 7 persen terhadap produksi Jawa Timur.
“Ngawi menjadi salah satu daerah dengan produktivitas tinggi, bahkan masuk tiga besar di Jawa Timur setelah Lamongan dan Bojonegoro,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai inovasi terus dilakukan untuk menjaga produktivitas, mulai dari penerapan pertanian ramah lingkungan berkelanjutan, modernisasi irigasi, hingga pemanfaatan teknologi pertanian guna menghadapi perubahan iklim, termasuk potensi El Nino pada pertengahan 2026.
Selain pendekatan teknis, kegiatan ini juga diperkuat melalui pendekatan sosial dan spiritual lewat konsep “sawah bersholawat”. Perwakilan Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama, Yayu, menyebut petani memiliki peran strategis sebagai penopang ketahanan pangan nasional.
“Pertanian bukan hanya soal produksi, tetapi juga memiliki nilai sosial dan spiritual. Dengan kebersamaan dan ikhtiar, kami optimistis target swasembada bisa tercapai,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan prioritas nasional yang harus diwujudkan melalui kerja cepat, tepat, dan terintegrasi.
“Kita harus bergerak bersama untuk memastikan kebutuhan pangan bangsa terpenuhi. Ini adalah agenda strategis yang tidak bisa ditunda,” tegasnya. jr7
